Jamur tiram



BUDIDAYA JAMUR TIRAM
            Berangkat dari niat untuk mendalami dunia usaha yang terbuka lebar serta keinginan untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat maka dengan segenap pengalaman, pengetahuan, dan berbagai hasil survey serta konsultasi. Pengembangan usaha ini dipilih atas beberapa pertimbangan diantaranya daya serap pasar yang masih sangat tinggi dan potensial, kebutuhan skill yang tidak  begitu tinggi, biaya investasi yang relatif rendah serta telah tersedianya sarana dan  prasarana utama sehingga investasi yang masuk akan dialokasikan untuk dana operasional usaha. Budidaya jamur tiram putih yang bernama latin  Pleurotus ostreatus  ini masih tergolong baru. Di Indonesia budidaya jamur tiram mulai dirintis dan diperkenalkan kepada para petani terutama di Cisarua, Lembang, Jawa Barat pada tahun 1988, dan pada waktu itu petani dan pengusaha jamur tiram masih sangat sedikit. Sekitar tahun 1995, para petani di kawasan Cisarua, yang semula merupakan petani bunga, peternak ayam dan sapi mulai beralih menjadi petani  jamur tiram meski masih dalam skala rumah tangga. Dalam perkembangannya, beberapa industri berskala rumah tangga bergabung hingga terbentuk CV dan memiliki badan hukum.
                        Pemilihan bentuk usaha budidaya jamur tiram ini dilatarbelakangi oleh :
o   Budidaya jamur tiram memiliki prospek ekonomi yang baik. Pasar  jamur tiram yang telah jelas serta permintaan pasar yang selalu tinggi memudahkan para pembudidaya memasarkan hasil produksi jamur tiram.
o   Merupakan salah satu jenis usaha yang memiliki tingkat kerumitan sederhana dan membutuhkan modal yang terjangkau.
o   Jamur tiram merupakan salah satu produk komersial dan dapat dikembangkan dengan teknik yang sederhana. Bahan baku yang dibutuhkan tergolong bahan yang murah dan mudah diperoleh seperti serbuk gergaji, dedak dan kapur, sementara proses budidaya sendiri tidak membutuhkan berbagai pestisida atau bahan kimia lainnya.
o   Membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar pertanian jamur tiram.
o   Media pembelajaran yang bertanggung jawab bagi penulis dalam memasuki dunia bisnis.
ANALISIS OPERASIONAL
A.  Lokasi Produksi
Lokasi usaha terletak Satria Kuncup Pringsewu Utara Kabupaten Pringsewu.
B.  Kapasitas Produksi
Diperkirakan dalam tahap awal memproduksi sekitar 3750 baglog. Panen dilakukan setelah 2 minggu penanaman jamur tiram dan panen dilakukan 3 kali dalam 1 minggu penanaman tersebut hanya mampu memenuhi 75 % kebutuhan pasar.
C.  Investasi Yang Dibutuhkan
Investasi awal yang dibutuhkan adalah sebesar 70 juta rupiah. Investasi diperoleh dari uang yang terkumpul pada setiap pendiri usaha.
D.  Rancangan Produksi
       Sebagai gambaran, sarana dan prasarana utama seperti bangunan kumbung dan kelengkapannya dalam pengembangan usaha ini telah tersedia sehingga investasi yang ada akan difokuskan untuk biaya operasional usaha
ANALISIS KEUANGAN
A. Analisis Modal Yang Di Butuhkan (Skala Produksi 3750 log)
1.      .Modal tetap Lahan (10 m x 7 m) = Rp. 25.000.000
2.      Biaya Penyusutan Biaya pembuatan Gubuk = Rp. 10.000.000
3.      Modal kerja (Biaya operasional)
a)      Bahan baku untuk 3750 log Biaya 3750 baglog = Rp. 7.500.000  
b)      Gaji pegawai Jumlah total per musim = Rp.3.000.000
c)      Operasional = Rp. 500.000
4. Total Modal = Modal tetap + modal Penyusutan + Modal Kerja = Rp. 25.000.000 + Rp. 10.000.000 + Rp. 11.000.000 = Rp. 46.000.000
B.Modal Yang Terkumpul
Diperoleh dari 3 orang pendiri Usaha : 3 orang x Rp. 10.000.000 = Rp. 30.000.000
C.Tambahan Modal Yang Dibutuhkan
Total Modal  – Modal Yang Terkumpul = Rp. 46.000.000 - Rp. 30.000.000 = Rp. 16.000.000
D.Perhitungan Pendapatan
1.      Pendapatan kotor Produksi jamur (kegagalan 20%) = (3750 x 20%)log x 0,25 kg = 750 kg 750 kg x 7000 = Rp. 5.250.000/hari
2.      Biaya Produksi 1 kali penanaman = Biaya bahan baku + Biaya Pekerja + operasional = Rp. 7.500.000 + Rp. 3.000.000 + Rp. 500.000 = Rp. 11.000.000
3.      Pendapatan bersih (Net Profit) = pendapatan kotor  –  biaya  produksi = Rp. (5.250.000 x 7)  –  Rp. 11.000.000 = Rp.25.750.000
4.      Break Event Point
     BEP Produksi = Total biaya produksi / harga satuan = 11.000.000 / 7000 = 1571,4 kg Artinya budidaya jamur tiram tidak mendapat untung dan juga tidak mengalami kerugian bila jumlah produksi sebesar 1571,4 kg
   BEP Harga = Total biaya produksi / jumlah produksi = 11.000.000 / 3750 = Rp. 2933,33 Artinya usaha ini tidak mendapatkan untung dan juga tidak mengalami kerugian bila harga jual Rp. 2933,33 per kilo
5.   Benefit Cost Ratio
 BC Ratio = Rp. 25.750.000/ Rp. 11.000.000 = 2,34 Artinya pendapatan bersih yang diperoleh dalam usaha  pembibitan bibit jamur adalah 2,34 di atas total biaya.
6.   Masa Pengembalian Modal dengan penghasilan bersih sebanyak Rp. 25.750.000 dalam setiap 1 kali penanaman jamur dihitung modal usaha dapat diperkirakan akan kembali pada 2 kali penanaman jamur tiram dengan waktu kurang lebih 1 bulan 1 minggu.

7.    Pembagian keuntungan 
Pembagian keuntungan bersih direncanakan adalah sebagai  berikut: Kepentingan sosial : 5% (zakat 2,5% + kepentingan sosial 2,5%)  profit Pengembangan usaha : 25 % profit Pengelola : 20 % profit Dividen investor : 50 % profit (20% profit share ; 30%  pengembalian modal)

ANALISIS MANAJEMEN
Sumber daya manusia yang dikelola dalam pembudidayaan jamur tiram juga masih sangat minim pengetahuannya. Sehingga perlu sekali  pemahaman dengan cara pembelajaran terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan beberapa cara, misalnya studi banding, mengikuti  pelatihan, ataupun studi literatur dari berbagai media cetak maupun elektronik, baik lokal maupun internasional. Kebanyakan karyawan  juga berasal dari daerah sekitar lokasi usaha, dengan kondisi yang cukup minim untuk kualifikasinya, sehingga banyak sebagai tenaga kasar pada bagian produksi. Pada awal usaha ini memang tidak memiliki manejemen yang baik, apalagi tentang keuangan. Pembukuan masih sangat sederhana, bahkan  bisa dikatakan tidak ada. Baru dirintis pembukuan sederhana pada awal tahun 2012. Tetap dikemas secara sederhana namun minimal bisa mulai dipilah tentang pembukuan keluarga dan usaha itu sendiri. Segementasi  pasar dan target juga sudah berkembang jauh. Jangkauan pasar bukan hanya ditingkat lokal, bahkan sudah mencapai seluruh nusantara. Untuk penjualan sudah mencapai luar pulau, diantaranya, Medan, Palembang, Lampung, Jambi, Batam, Banjarmasin, Samarinda, Palangkaraya, Sampit, Tenggarong, Makasar, Ambon, Nusa Tenggara Timur, dan Bali. Manajerial masih dilakukan secara sederhana, namun sudah lebih terkonsep dan penuh strategi, sedangkan pendataan, administrasi dan keuangan sudah terkomputerisasi. Sehingga untuk keuangan sudah lebih tertata rapi dan terpilah antara keuangan keluarga dan usaha. Sedangkan legalitas usaha berubah nama dan lebih difokuskan pada  perdagangan Jamur Tiram dan agrobisnis.

Target Pasar

            Pada tahun-tahun awal, pemasaran produk difokuskan pada pasar domestik, ‘ traditional market’  , dan ‘house need’ . Produk jamur segar yang dihasilkan akan dipasarkan ke / melalui :
1.      Agen baik dalam skala besar maupun kecil, yang selanjutnya akan dikirim ke berbagai wilayah di Lanpung dan sekitarnya.
2.      Pasar Terminal Pringsewu dan sekitarnya. Sebagai gambaran,  permintaan pasar induk seperti pasar Pringsewu, pasar Baru
3.      Pringsewu, pasar Sukoharjo permintaan atas produk jamur tiram ini sangat tinggi sehingga untuk skala produksi yang direncanakan dalam  proposal ini pemasarannya sudah cukup melalui pasar induk.
4.      Pasar swalayan, restoran, dan hotel. Pemasaran direncanakan akan dilaksanakan melalui sektor tersebut apabila produksi telah stabil serta sarana dan prasarana telah memadai.

 Antisipasi Masa Depan
             Sebagai wirausahawan yang baik, kami tidak akan membiarkan usaha ini berjalan secara mendatar. Kami akan terus mencoba memperbaiki kualitas pekerjaan kami, agar para peminat dan konsumen puas atas kue yang kami buat. Karena apabila kualitas jamur tiram kami tidak kami tingkatkan kemungkinan besar usaha ini tidak akan maju, dan terancam bangkrut.


Komentar